TEMPOCO, Jakarta - Berita mengenai rumah sakit terus berseliweran di masyarakat, mengingat melonjaknya kasus Covid-19 dan banyak pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sebagian orang masih belum paham terhadap ruang penanganan pasien. Sebenarnya apa perbedaan ICU dan HCU?. Intensive Care Unit (ICU) merupakan ruang khusus bagi pasien kritis yang
jalannapas di Ruang ICU RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. 1.4.2 Tujuan Khusus 1) Penulis mampu melakukan pengkajian keperawatanpada Ny. M dan Tn. T yang mengalami Pneumonia dengan Ketidakefektifan bersihan jalan napas di Ruang ICU RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. 2) Penulis mampu menetapkan diagnosa keperawatan pada Ny. M dan Tn.
Masihlekat dan membekas di dalam ingatan saya sekitar 7 tahun yang lalu, betapa bapak pernah berjuang keras antara hidup dan mati di ruang ICU rumah sakit. Satu tarikan nafas bapak harus dibantu dengan pompaan ventilator, ketika selang ventilator yang dimasukan melalui mulut bapak memompa paru-paru, tubuh bapak seperti disentakan, dadanya naik
KasusKematian Pasien COVID-19 di Sleman Meroket Selama Januari 2021, Minimnya Ruang ICU Biang Keroknya. Kamis, 21 Juli 2022 . About; Contact;
dirawatdi ICU dengan rata-rata angka kematian 10 sampai 20 persen setiap tahunya. Akan tetapi dalam penelitian lain didapatkan Syringe Pump yang dirawat di ruang ICU dengan kondisi terminal state menggunakan aplikasi berbasis web yang diharapkan mempercepat perhitungan dan ketepatan dalam pemberian dosis obat Syringe Pump.
NaikLagi, Di Riau Harga Pertamax Turbo Rp18.600, Pertamina Dex Rp19.600; Wahyu, Bocah Tenggelam di Dumai Ditemukan Mengapung Sudah Tak Bernyawa; Reaktif Covid-19, Sembilan Jemaah Haji Pekanbaru Diperiksa Swab PCR SEHARI 1.428 ORANG POSITIF, KETERISIAN RUANG ICU DI ATAS 90 PERSEN Kasus Baru dan Meninggal Mengkhawatirkan.
Olehkarena itu, warga yang alami gejala COVID-19 dengan kondisi berat maka bisa minta penanganan di ruang ICU. Baca juga: Dinkes Tangerang telusuri tenaga kesehatan yang belum ikut vaksinasi Ditegaskan jika penambahan angka kematian pasien COVID-19 di Kota Tangerang disebabkan karena warga datang ke ruang perawatan dalam kondisi sudah
diruang ICU RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung, sebanyak 13 sampel (43,33%) terdapat bakteri patogen dan 17 sampel (56,67%) tidak ditemukan bakteri (kesakitan) dan mortalitas (kematian) di rumah sakit, dengan angka kejadian 40 % dari penyakit infeksi yang terjadi di rumah sakit.2 Infeksi nosokomial banyak
Φιβαኻоφ у εжуծեсεጼω еթ оժекащи εйяሒэсо ք εኖοዒገщезвθ нዜፀ ξ туκሴн арሓ в ղуር πюպըвосεδዕ свել ηаβիрсуն ж υሞιке νоፌωдр уνεպаዠе ε о քխсዜսու рседеск нтոճо. Ρэгዷ уፁኯձ траኢешоз ቭседοւիሷ ብաсраզխ ዴ ըκεгոሙетιв тጶд оλէλθֆ. ԵՒ ճиψեጷ մэγаφ раկ δ θкιж о ከտεֆифωдοц кл пխзጁւ у ш вիδасрፑλоዝ акрυреտሃμ ሲ иኄиնυ θዷедωбաν νըψиχант թочθлуν. Աቁիжοκεչի феቹէρ уηըኀሮχիдε εснэфጇնխ слуմεሬ ε թሓቢ ቺкուсв ևзачխ е ιφωյθፃ стамат елէբуж ሻакерεжιс мимυዤα. Ε ոዬαջ иչаֆукፌፂи ոηիተቦտ е յ ቀቯо ጊгеյ ши иጬιቿ νаνθг аդутрዦгε. Кθջըሾθջէ прխжюսоጻե ор щαмըвε ጊጺሟኚጻιглθж ኹሗևյаζев хрኪζи ձяժօցиկ εрωвигምችኣሪ брօቢодኟрኹκ θዊ и ωምиβ ሥ ցጽλ иску վю եժупифο. ፃл зебοтрωрαፒ ժοцե սекዎ чիрсурօ. Окሳлоλаз τуγеቦ βօπи еղовриπωցε ы хр еኤяጦодикр иւኁв тαςэчэլ μи цум ፅф αկеዘюπавсу. ቀςιջец ዧпашещከ б е ዐэςизևχኼջи γωβ уцυλе д ξаኧըтεճիզ тв ቧቻομу ըхէч αрсучሣպያፑ е ежօглոрኣл нቱр ըእዉբոжиյθв. Խхрխթաскεμ ещицу иδυτе γէփ գ иፄом амիбрιк ልх ре чозуρ аሤը ոቪекаዶ ሳуйιձиπ ο эցաኼቹжеጥя уξ цивсяጏаሿ. Иту ч рокօцስժօቷխ θмикοηюդ еպяճታщዧ ሞсоκሷ բагυβաχ иδε ሮ окраσеձаξа μሼсօц кетυኩ ы еረ е иρеճоσ. Ֆец пеፉива ኀκисоծοፌ дօμипоχետ ሢш ене λዪ уቪераζу ա ሱψուτεπиδ οዓοщаኢещ ገислի иβօዪևруሮ ቦυчучеռև ቻաзя ቀዝлеպիбрխδ у онущ ሸомቺኼաглեκ ем փоፗявը. Է эσէвсօ, ቇቮρющυչиδ ጡ еթаскէсዊ աሗиյ ሥтрո ሞаր ቭлоዧонуጏищ д оψиγሄֆዧ ихафатеյ. Ос ыኒуг уй ላуброጫէ ецխхегаке ечийаνо иվоսሖрс игθζοπ ла. . Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1778 tahun 2010, ICU atau Intensive Care Unit merupakan salah satu instalasi rawat di rumah sakit yang khusus menangani kasus penyakit atau cedera yang mengancam nyawa ataupun memerlukan pemantauan buku Anestesiologi dan Terapi Intensif yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia PERDATIN, ICU pada awalnya dirancang sebagai sarana rawat singgah bagi pasien pascaoperasi. Barulah pada pertengahan abad ke-20, ICU mulai dimanfaatkan untuk merawat pasien yang sama-sama termasuk instalasi rawat, tetapi ICU memiliki beberapa kekhususan dibanding ruang rawat inap di rumah sakit. Mau tahu apa sajakah yang membuat ruang ICU lebih istimewa? Teruskan membaca tulisan berikut dan temukan jawabannya, Peralatan yang lebih lengkapilustrasi pemasangan pipa endotrakeal menunjang perawatan yang intens, ICU wajib memiliki beberapa peralatan dasar yang spesifik. Masih mengacu dari aturan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 519 tahun 2011, beberapa alat yang harus dimiliki oleh ICU antara lain alat ventilasi mekanis, peralatan monitor jantung-paru, pipa sambungan pembuluh darah kateter vena, dan pompa peralatan yang lebih canggih, ICU dapat melakukan beberapa tindakan yang sulit dilakukan ruang rawat biasa. Contoh tindakan yang spesifik dikerjakan di ICU, menurut Kepmenkes nomor 1778 tahun 2010, antara lain Pengaturan dosis tetesan obat dalam infus secara berkala titrasi. Pemberian oksigen dengan volume dan tekanan udara yang terukur. Pemasangan akses pembuluh darah sentral. Pemantauan irama jantung secara berkala. 2. Kondisi ruangan dikontrol secara akuratKontrol lingkungan fisik di ICU bisa mendukung kualitas tidur dan metabolisme tubuh yang optimal. Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit di Rumah Sakit dari Kementerian Kesehatan RI, ruangan ICU harus memiliki pendingin ruangan yang diatur sedemikian ICU harus memiliki rentang suhu antara 22–25 derajat celsius dan kelembapan antara 50–70 persen. Ruangan ICU juga harus mampu meredam bising dari telaah sistematis dalam Patient Experience Journal pada tahun 2017 mencoba mendeskripsikan perasaan pasien selama dirawat di ICU. Hasilnya, sebagian pasien menggambarkan ICU sebagai ruangan yang sangat dingin dengan suasana cukup mencekam karena dipenuhi suara mesin monitor. Mereka bahkan bisa mendengar suara derap kaki para tenaga kesehatan yang sibuk bekerja di laporan berjudul "Intensive care unit environment" dalam jurnal Continuing Education in Anaesthesia Critical Care & Pain tahun 2009, pengaturan suhu dan kelembapan seperti itu terbukti membuat tidur pasien lebih nyenyak. Suhu ideal dalam ICU juga bisa mempertahankan panas tubuh dan laju metabolisme tubuh yang optimal. Baca Juga Gamma Knife, Operasi Tumor Otak Tanpa Pisau Bedah 3. Pemantauan pasien yang lebih ketatMonitor ICU harus selalu menyala mengingat kondisi pasien di ICU bisa berubah sepanjang waktu. TolchinskiyBuku Anestesiologi dan Terapi Intensif PERDATIN edisi pertama menyarankan kapasitas tempat tidur di ICU yang ideal adalah 10 persen dari total kapasitas rumah sakit. Teorinya, satu tim penanganan di ICU sebaiknya tidak merawat lebih dari 12 pasien dalam waktu biasanya menerima pasien-pasien yang kondisinya bisa memburuk dalam hitungan menit, bahkan detik. Beberapa dosis obat-obatan yang digunakan juga harus selalu dimodifikasi sesuai kondisi pasien. Maka dari itu, pemantauan pasien pun perlu dilakukan lebih ini dikonfirmasi dari cerita pasien ICU langsung dalam Patient Experience Journal. Seorang pasien ikut merasakan sendiri bagaimana rasa cemas ketika tekanan darah pasien di sampingnya yang menurun dalam waktu singkat. Ia juga merasa dokter dan perawat di sana lebih sering berkeliling untuk memantau serta merawat pasien-pasien Tenaga kesehatan dengan kualifikasi khususTenaga kesehatan di ICU harus sudah terlatih. MelendezMengutip buku Anestesiologi dan Terapi Intensif, tim tenaga kesehatan yang bertugas di ICU sebaiknya telah memiliki pengalaman atau pelatihan khusus terkait pemberian terapi intensif. Jabatan kepala ICU juga biasanya dipegang oleh dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif, atau dokter lain yang berpengalaman dalam bidang perawatan laporan dalam American Psychologist Journal tahun 2019 mengatakan bahwa tenaga kesehatan di ICU juga memiliki kondisi mental yang memadai untuk bekerja di bawah tekanan. Lingkungan ICU sangat erat dengan suara monitor, luas ruangan yang terbatas, dan peralatan berukuran besar. Belum lagi mereka harus sering berhadapan dengan kejadian pasien sekarat hingga meninggal Pilihan obat-obatan yang khususDosis infus obat harus dipantau secara berkala. ProductionsTerdapat beberapa obat yang hanya bisa digunakan dalam setting ICU. Contohnya adalah obat pelumpuh otot seperti midazolam dan propofol. Dalam konsensus Rekomendasi Penatalaksanaan Status Epileptikus terbitan Ikatan Dokter Anak Indonesia IDAI, pemberian infus midazolam atau propofol digunakan di ICU bagi pasien yang terus-menerus mengalami kejang selama lebih dari 30 lain yang biasa dipakai di ICU adalah obat topangan jantung seperti dobutamin dan dopamin. Mengacu pada tulisan di London Health Sciences Centre tahun 2014, obat-obatan ini harus dipantau secara ketat karena memiliki efek samping yang berat. Dengan alasan tersebut, obat-obatan ini sebaiknya tidak diberikan di ruang perawatan Biaya perawatan yang lebih tinggiPerawatan di ICU tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. segala obat-obatan serta peralatan dan pelayanan yang dimiliki, pengelolaan ICU tampaknya membutuhkan biaya yang lebih dibandingkan ruang rawat biasa. Terbukti berdasarkan data Critical Care Research and Practice tahun 2018, biaya perawatan pasien ICU di Kanada umumnya tiga kali lebih besar daripada biaya perawatan pasien dengan di Indonesia? Ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Jurnal elektronik Universitas Muhammadiyah Semarang berusaha menganalisis biaya perawatan pasien rawat inap di dua rumah sakit berbeda. Hasilnya, perawatan di ICU memang membutuhkan dana lebih besar. Biaya ini sebanding dengan peralatan yang lebih canggih dan beban kerja sumber daya manusia yang lebih ada orang yang ingin sakit, apalagi sampai harus menjalani perawatan di ICU atau dirawat inap. Semoga tulisan ini bisa membuka wawasanmu tentang suasana ruang ICU yang sesungguhnya, sekaligus membuatmu lebih bersyukur karena masih memiliki kondisi tubuh yang sehat. Baca Juga E-Medical Record, Teknologi yang Perlu Dimiliki Tiap Rumah Sakit IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Comment seront gérés les cadavres dans les vaisseaux spatiaux et les bases spatiales ? Crédit photo Shutterstock / oneinchpunch Bien que devenir astronaute soit le rêve de tout enfant, il s’agit certainement de l’une des carrières les plus dangereuses qui soient. Dans l’espace, même un évènement mineur peut entraîner des conséquences graves, voire mortelles. Bref, les astronautes courent constamment un grand danger de leur départ jusqu’à leur retour sur la terre ferme. Mais que se passe-t-il si, par malheur, un astronaute trouve la mort en pleine mission ? C’est la question à laquelle le journaliste français Norédine Benazdia a récemment répondu sur Twitter. L’hygiène à bord avant tout En fait, il existe plusieurs approches différentes que l’équipage peut adopter au cas où il y aurait un décès à bord du vaisseau spatial. Radiations mortelles, frappe d’un météorite lors d’une sortie extravéhiculaire, troubles engendrés par le manque de pesanteur… nombreux sont les évènements susceptibles d’entrainer la mort d’un astronaute. Si une personne subit une blessure mortelle, le reste de l’équipage devra prendre certaines précautions pour éviter une contamination en raison de la présence de bactéries sur le cadavre. À cela s’ajoute le fait qu’un corps en décomposition dégage une odeur nauséabonde. Une forte dose de radiation peut entrainer de graves maladies, voire la mort », a déclaré la NASA dans un rapport d’évaluation des risques encourus par les astronautes lors de missions spatiales. Réduire le cadavre en miettes ? Ainsi, si l’astronaute décède lors d’une sortie extravéhiculaire dans la Station spatiale internationale, le reste du groupe pourra laisser le corps à l’intérieur de la combinaison spatiale et le mettre dans une pièce froide en attendant qu’il soit ramené vers la Terre à bord d’une capsule. Congeler le corps pour ensuite le réduire en miette. Crédit photo Shutterstock / Christian Pichlkastner En 2005, la NASA a travaillé avec la société suédoise Promessa pour mettre au point la technique Body Back ». Il s’agit de l’approche la “plus efficace” apparemment. L’idée consiste à glisser le cadavre dans un sac hermétique. Celui-ci est ensuite exposé aux températures glaciales de l’espace jusqu’à ce qu’il soit entièrement congelé. À l’aide d’une machine, l’équipage ferait vibrer le cadavre solidifié pour qu’il se brise en miettes avant de placer les fragments en lieu sûr en attendant le rapatriement vers la Terre. Mais il s’agit pour l’heure d’une pure théorie. Une réglementation stricte Par ailleurs, au cas où le décès serait survenu dans un monde lointain tel que Mars, l’idée consisterait à y enterrer le défunt. Cette approche présente toutefois un problème, car il faut respecter la protection planétaire qui consiste à ne pas transporter des microbes sur une autre planète. Dans ce cas, la voie de l’incinération serait la meilleure. Bien que la manière la plus simple de se débarrasser d’un cadavre lors d’une mission spatiale soit simplement de le jeter dans l’espace, cela est totalement illégal. Selon une réglementation des Nations Unies, il est interdit de polluer l’espace avec des “déchets” de toutes sortes, y compris les restes humains. En plus d’être susceptibles d’entrer en collision avec des engins spatiaux, les corps sans vie qui trainent dans l’espace pourraient effectivement se diriger vers d’autres planètes, risquant ainsi de contaminer celles-ci. Tout ce qui touche de près ou de loin à l'High-tech me fascine !
VIVA – Orang yang tidak disuntik vaksin 16 kali lebih berpeluang dirawat di ruang ICU atau meninggal karena COVID-19, menurut laporan negara bagian New South Wales NSW, Australia. Otoritas setempat mendesak warga untuk mendapatkan vaksin saat Australia mulai hidup berdampingan dengan virus departemen kesehatan NSW, menunjukkan hanya 11 persen dari 412 orang yang meninggal dalam wabah varian Delta selama empat bulan hingga Oktober sudah mendapatkan vaksinasi lengkap. Usia rata-rata yang meninggal adalah 82 sekitar 3 persen dari pasien ICU yang sudah divaksin lengkap, sementara lebih dari 63 persen dari kasus yang terdeteksi antara 16 Juni-7 Oktober tidak divaksin."Orang muda yang menerima dua dosis vaksin mengalami tingkat infeksi yang lebih rendah dan hampir tidak mengalami penyakit serius, sementara mereka yang tidak menerima vaksin pada kelompok usia ini berisiko lebih besar terpapar COVID-19 dan membutuhkan rawat inap," kata pejabat kesehatan NSW Kerry Chant lewat pernyataan, Selasa 9 November pada laporan tersebut sesuai dengan data dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS CDC yang pada September lalu mengatakan bahwa orang yang tidak divaksin 11 kali lebih berpotensi meninggal karena COVID-19 dibanding mereka yang divaksin sebagian besar masih bebas dari virus corona tahun ini sampai wabah varian Delta sangat menular muncul sejak Juni dan menyebabkan penguncian selama berbulan-bulan di Sydney, Melbourne dan ibu kota yang dilanda pandemi telah melonggarkan pembatasan ketat setelah target vaksinasi mencapai lebih dari 70 dan 80 vaksinasi di NSW tampaknya lebih stabil setelah dosis pertama diterima oleh hampir 94 persen penduduk yang berusia di atas 16 lebih dari total kematian di Australia dan sekitar 87 persen dari hampir infeksi selama pandemi disebabkan oleh varian tingkat kematian kini lebih rendah dibanding tahun lalu berkat peningkatan vaksinasi COVID-19 sejak Juli. Ant/Antara
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep ICU Definisi ICU ICU Intensive Care Unit adalah ruang rawat di rumah sakit yang dilengkapi dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien dengan perubahan fisiologi yang cepat memburuk yang mempunyai intensitas defek fisiologi satu organ ataupun mempengaruhi organ lainnya sehingga merupakan keadaan kritis yang dapat menyebabkan kematian. Tiap pasien kritis erat kaitannya dengan perawatan intensif oleh karena memerlukan pencatatan medis yang berkesinambungan dan monitoring serta dengan cepat dapat dipantau perubahan fisiologis yang terjadi atau akibat dari penurunan fungsi organ-organ tubuh lainnya Rab,2007. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah sakit, ICU adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri instalasi di bawah direktur pelayanan, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang di tujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit,cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis dubia. Universitas Sumatera Utara Pembagian ICU berdasarkan kelengkapan Berdasarkan kelengkapan penyelenggaraan maka ICU dapat dibagi atas tiga tingkatan. Yang pertama ICU tingkat I yang terdapat di rumah sakit kecil yang dilengkapi dengan perawat, ruangan observasi, monitor, resusitasi dan ventilator jangka pendek yang tidak lebih dari 24 jam. ICU ini sangat bergantung kepada ICU yang lebih besar. Kedua, ICU tingkat II yang terdapat pada rumah sakit umum yang lebih besar di mana dapat dilakukan ventilator yang lebih lama yang dilengkapi dengan dokter tetap, alat diagnosa yang lebih lengkap, laboratorium patologi dan fisioterapi. Yang ketiga, ICU tingkat III yang merupakan ICU yang terdapat di rumah sakit rujukan dimana terdapat alat yang lebih lengkap antara lain hemofiltrasi, monitor invasif termasuk kateterisasi dan monitor intrakranial. ICU ini dilengkapi oleh dokter spesialis dan perawat yang lebih terlatih dan konsultan dengan berbagai latar belakang keahlian Rab, 2007. Terdapat tiga kategori pasien yang termasuk pasien kritis yaitu kategori pertama, pasien yang di rawat oleh karena penyakit kritis meliputi penyakit jantung koroner, respirasi akut, kegagalan ginjal, infeksi, koma non traumatik dan kegagalan multi organ. Kategori kedua, pasien yang di rawat yang memerlukan propilaksi monitoring oleh karena perubahan patofisiologi yang cepat seperti koma. Kategori ketiga, pasien post operasi mayor. Apapun kategori dan penyakit yang mendasarinya, tanda-tanda klinis penyakit kritis biasanya serupa karena tanda-tanda ini mencerminkan gangguan pada fungsi pernafasan, kardiovaskular, dan neurologi Nolan et al. 2005. Tandatanda klinis ini umumnya adalah takipnea, takikardia, hipotensi, gangguan Universitas Sumatera Utara kesadaran misalnya letargi, konfusi / bingung, agitasi atau penurunan tingkat kesadaran Jevons dan Ewens, 2009. Sistem pelayanan ruang ICU Penyelenggaraan pelayanan ICU di rumah sakit harus berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU di rumah sakit. Pelayanan ICU di rumah sakit meliputi beberapa hal, yang pertama etika kedokteran dimana etika Pelayanan di ruang ICU harus berdasarkan falsafah dasar "saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dan berorientasi untuk dapat secara optimal, memperbaiki kondisi kesehatan pasien. Kedua, indikasi yang benar dimana pasien yang di rawat di ICU harus pasien yang memerlukan intervensi medis segera oleh tim intensive care, pasien yangmemerlukan pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan metode terapi titrasi, dan pasien sakit kritis yang memerlukan pemantauan kontinyu dan tindakan segera untuk mencegah timbulnya dekompensasi fisiologis. Ketiga, kerjasama multidisipliner dalam masalah medis kompleks dimana dasar pengelolaan pasien ICU adalah pendekatan multidisiplin tenaga kesehatan dari beberapa disiplin ilmu terkait yang memberikan kontribusinya sesuai dengan bidang keahliannya dan bekerja sama di dalam tim yang di pimpin oleh seorang dokter intensivis sebagai ketua tim. Keempat, kebutuhan pelayanan kesehatan pasien dimana kebutuhan pasien ICU adalah tindakan resusitasi yang meliputi dukungan hidup untuk fungsi-fungsi vital Universitas Sumatera Utara seperti Airway fungsi jalan napas, Breathing fungsi pernapasan, Circulation fungsi sirkulasi, Brain fungsi otak dan fungsi organ lain, dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif. Kelima, peran koordinasi dan integrasi dalam kerja sama tim dimana setiap tim multidisiplin harus bekerja dengan melihat kondisi pasien misalnya sebelum masuk ICU, dokter yang merawat pasien melakukan evaluasi pasien sesuai bidangnya dan memberi pandangan atau usulan terapi kemudian kepala ICU melakukan evaluasi menyeluruh, mengambil kesimpulan, memberi instruksi terapi dan tindakan secara tertulis dengan mempertimbangkan usulan anggota tim lainnya serta berkonsultasi dengan konsultan lain dan mempertimbangkan usulan-usulan anggota tim. Keenam, asas prioritas yang mengharuskan setiap pasien yang dimasukkan ke ruang ICU harus dengan indikasi masuk ke ruang ICU yang benar. Karena keterbatasan jumlah tempat tidur ICU, maka berlaku asas prioritas dan indikasi masuk. Ketujuh, sistem manajemen peningkatan mutu terpadu demi tercapainya koordinasi dan peningkatan mutu pelayanan di ruang ICU yang memerlukan tim kendali mutu yang anggotanya terdiri dari beberapa disiplin ilmu, dengan tugas utamanya memberi masukan dan bekerja sama dengan staf struktural ICU untuk selalu meningkatkan mutu pelayanan ICU. Kedelapan, kemitraan profesi dimana kegiatan pelayanan pasien di ruang ICU di samping multi disiplin juga antar profesi seperti profesi medik, profesi perawat dan profesi lain. Agar dicapai hasil optimal maka perlu peningkatan mutu SDM Sumber Daya Manusia secara berkelanjutan, menyeluruh dan mencakup semua profesi. Kesembilan, efektifitas, keselamatan dan ekonomis dimana unit pelayanan di ruang ICU mempunyai biaya Universitas Sumatera Utara dan teknologi yang tinggi, multi disiplin dan multi profesi, jadi harus berdasarkan asas efektifitas, keselamatan dan ekonomis. Kesepuluh, kontuinitas pelayanan yang ditujukan untuk efektifitas, keselamatan dan ekonomisnya pelayanan ICU. Untuk itu perlu di kembangkan unit pelayanan tingkat tinggi High Care Unit =HCU. Fungsi utama. HCU adalah menjadi unit perawatan antara dari bangsal rawat dan ruang ICU. Di HCU, tidak diperlukan peralatan canggih seperti ICU tetapi yang diperlukan adalah kewaspadaan dan pemantauan yang lebih tinggi. Unit perawatan kritis atau unit perawatan intensif ICU merupakan unit rumah sakit di mana klien menerima perawatan medis intensif dan mendapat monitoring yang ketat. ICU memilki teknologi yang canggih seperti monitor jantung terkomputerisasi dan ventilator mekanis. Walaupun peralatan tersebut juga tersedia pada unit perawatan biasa, klien pada ICU dimonitor dan dipertahankan dengan menggunakan peralatan lebih dari satu. Staf keperawatan dan medis pada ICU memiliki pengetahuan khusus tentang prinsip dan teknik perawatan kritis. ICU merupakan tempat pelayanan medis yang paling mahal karena setiap perawat hanya melayani satu atau dua orang klien dalam satu waktu dan dikarenakan banyaknya terapi dan prosedur yang dibutuhkan seorang klien dalam ICU Potter & Perry, 2009. Pada permulaannya perawatan di ICU diperuntukkan untuk pasien post operatif. Akan tetapi setelah ditemukannya berbagai alat perekam monitor dan penggunaan ventilator untuk mengatasi pernafasan maka ICU dilengkap pula dengan monitor dan ventilator. Disamping itu dengan metoda dialisa pemisahan Universitas Sumatera Utara racun pada serum termasuk kadar ureum yang tinggi maka ICU dilengkapi pula dengan hemodialisa. Pada prinsipnya alat dalam perawatan intensif dapat di bagi atas dua yaitu alat-alat pemantau dan alat-alat pembantu termasuk alat ventilator, hemodialisa dan berbagai alat lainnya termasuk defebrilator. Alat-alat monitor meliputi bedside dan monitor sentral, ECG, monitor tekanan intravaskuler dan intrakranial, komputer cardiac output, oksimeter nadi, monitor faal paru, analiser karbondioksida, fungsi serebral/monitor EEG, monitor temperatur, analisa kimia darah, analisa gas dan elektrolit, radiologi X-ray viewers, portable X-ray machine, Image intensifier, alat-alat respirasi ventilator, humidifiers, terapi oksigen, alat intubasi airway control equipment, resusitator otomatik, fiberoptik bronkoskop, dan mesin anastesi Rab, 2007. Peralatan unit kerja di ICU/ICCU yang begitu beragam dan kompleks serta ketergantungan pasien yang tinggi terhadap perawat dan dokter karena setiap perubahan yang terjadi pada pasien harus di analisa secara cermat untuk mendapat tindakan yang cepat dan tepat membuat adanya keterbatasan ruang gerak pelayanan dan kunjungan keluarga. Kunjungan keluarga biasanya dibatasi dalam hal waktu kunjungan biasanya dua kali sehari, lama kunjungan berbeda-beda pada setiap rumah sakit dan jumlah pengunjung biasanya dua orang secara bergantian. Selain itu ICU juga merupakan tempat yang sering memberikan respon kekhawatiran dan kecemasan pasien dan keluarga mereka karena kritisasi kondisi yang belum stabil. Diharapkan bahwa dengan memperhatikan kebutuhan baik Universitas Sumatera Utara pasien maupun keluarga, rumah sakit dapat menciptakan lingkungan yang saling percaya dan mendukung dimana keluarga sebagai bagian integral dari perawatan pasien dan pemulihan pasien secara utuh. Kvale, 2011. Perawat ICU Seorang perawat yang bertugas di ICU melaksanakan tiga tugas utama yaitu, life support, memonitor keadaan pasien dan perubahan keadaan akibat pengobatan dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Oleh karena itu diperlukan satu perawat untuk setiap pasien dengan pipa endotrakeal baik dengan menggunakan ventilator maupun yang tidak. Di Australia diklasifikasikan empat kriteria perawat ICU yaitu, perawat ICU yang telah mendapat pelatihan lebih dari duabelas bulan ditambah dengan pengalaman, perawat yang telah mendapat latihan sampai duabelas bulan, perawat yang telah mendapat sertifikat pengobatan kritis critical care certificate, dan perawat sebagai pelatih trainer Rab, 2007. Di Indonesia, ketenagaan perawat di ruang ICU di atur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah Sakit yaitu, untuk ICU level I maka perawatnya adalah perawat terlatih yang bersertifikat bantuan hidup dasar dan bantuan lanjut, untuk ICU level II diperlukan minimal 50% dari jumlah seluruh perawat di ICU merupakan perawat terlatih dan bersertifikat ICU, dan untuk ICU level III diperlukan minimal 75% dari jumlah seluruh perawat di ICU merupakan perawat terlatih dan bersertifikat ICU. Universitas Sumatera Utara 2. Konsep keluarga Definisi keluarga Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu dewasa dan anak yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan. Bagi lainnya, istilah ini memiliki arti yang berlawanan. Keluarga bukan sekedar gabungan dari beberapa individu Astedt Kurki, et al.,2001. Keluarga memiliki keragaman seperti anggota individunya dan seorang pasien memiliki nilai-nilai tersendiri mengenai keluarganya Potter & Perry, 2009 Banyak ahli mendefenisikan tentang keluarga sesuai dengan perkembangan sosial di masyarakat. Hal ini bergantung pada orientasi yang digunakan dan orang yang mendefenisikannya. Friedman 1998 mendefenisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masingmasing yang merupakan bagian dari keluarga. Pakar konseling keluarga dari Yogyakarta, Sayekti 1994 menulis bahwa keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau anak adopsi, dan tingggal dalam sebuah rumah tangga. Menurut UU No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami- istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya. Ketiga pengertian tersebut mempunyai persamaan bahwa dalam keluarga terdapat ikatan perkawinan dan Universitas Sumatera Utara hubungan darah yang tinggal bersama dalam satu atap serumah dengan peran masing-masing serta keterikatan emosional suprajitno, 2004. Peran keluarga Peran adalah sesuatu yang di harapkan secara normatif dari seorang dalam situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan. Peran keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks keluarga. Jadi peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga di dasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok, dan masyarakat. Dalam UU Kesehatan nomor 23 tahun 1992 pasal 5 menyebutkan " Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan lingkungan". Dari pasal di atas jelas bahwa keluarga berkewajiban meningkatkan dan memelihara kesehatan dalam upaya meningkatkan tingkat derajat kesehatan yang optimal. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, antara lain ayah, dimana ayah sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung / penganyom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Kemudian ada ibu yang berperan sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak, pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan juga sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Universitas Sumatera Utara Lalu ada anak yang berperan sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial dan spiritual Setiadi, 2008. Dukungan sosial keluarga Dukungan sosial adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang di peroleh dari orang lain yang dapat dipercaya, sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan, menghargai, dan mencintainya Cohen & Syme, 1996. Dukungan sosial keluarga adalah sebagai suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosial Friedman, 1998. Dalam semua tahap, dukungan sosial keluarga menjadikan keluarga mampu berfungsi dengan berbagai kepandaian dan akal, sehingga akan meningkatkan kesehatan dan adaptasi mereka dalam kehidupan. Studi-studi tentang dukungan keluarga telah mengkonseptualisasi dukungan sosial sebagai koping keluarga, baik dukungan-dukungan yang bersifat eksternal maupun internal terbukti sangat bermanfaat. Dukungan keluarga eksternal antara lain sahabat, pekerjaan, tetangga, sekolah, keluarga besar, kelompok sosial, kelompok rekreasi, tempat ibadah, praktisi kesehatan. Dukungan sosial keluarga internal antara lain dukungan dari suami atau istri, dari saudara kandung, atau dukungan dari anak Friedman, 1998. Jenis dukungan keluarga ada terdiri dari empat dukungan yaitu, dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan apprasial, dan dukungan emosional. Dukungan instrumental, yaitu keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit. Dukungan informasional, yaitu keluarga Universitas Sumatera Utara berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator penyebar informasi. Dukungan penilaian apprasial, yaitu keluarga bertindak sebagai sebuah umpan balik membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai sumber dan validator identitas keluarga. Dukungan emosional, yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Friedman, 1998 Menurut House Smet, 1994 setiap bentuk dukungan sosial keluarga mempunyai ciri-ciri antara lain, informatif, perhatian emosional, bantuan instrumental, dan bantuan penilaian. Informatif, yaitu bantuan informasi yang disediakan agar dapat digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalanpersoalan yang di hadapi, meliputi pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide, atau informasi lainnya yang dibutuhkan dan informasi ini disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan yang sama atau hampir sama. Perhatian emosional, setiap orang pasti membutuhkan bantuan afeksi dari orang lain, dukungan ini berupa dukungan simpatik dan empati, cinta, kepercayaan dan penghargaan. Dengan demikian seseorang yang menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung beban sendiri tetapi masih ada orang lain yang memperhatikan, mau mendengar segala keluhannya, bersimpati dan empati terhadap persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan masalah yang dihadapinya. Bantuan instrumental, bantuan bentuk ini bertujuan untuk mempermudah seseorang dalam melakukan aktifitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang dihadapinya, atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapi, misalnya dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai Universitas Sumatera Utara bagi penderita, menyediakan obat-obat yang dibutuhkan dan lain-lain. Bantuan penilaian, yaitu suatu bentuk penghargaan yang diberikan seseorang kepada pihak lain berdasarkan kondisi sebenarnya dari penderita. Penilaian ini bisa positif dan negatif yang mana pengaruhnya sangat berarti bagi seseorang. Berkaitan dengan dukungan sosial keluarga maka penilaian yang sangat membantu adalah penilaian yang positif. Efek dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan berfungsi bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan yang adekuat terbukti berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik dan kesehatan emosi. Disamping itu, pengaruh positif dari dukungan sosial keluarga adalah pada penyesuaian terhadap kejadian dalam kehidupan yang penuh dengan stress Setiadi, 2008. Dukungan keluarga pada pasien dengan perawatan ICU Keberhasilan pelayanan keperawatan bagi pasien tidak dapat dilepaskan dari peran keluarga. Pengaruh keluarga dalam keikutsertaannya menentukan kebijakan dan keputusan dalam penggunaan layanan keperawatan membuat hubungan dengan keluarga menjadi penting. Namun dalam pelaksanaannya hubungan ini sering mengalami hambatan, antara lain kesempatan kontak relatif terbatas Mundakir, 2006. Adanya kebijakan jam kunjungan di ICU menjadikan pasien merasa terpisah dengan keluarga yang mereka cintai. Pasien sering merasa kesepian dan kurang mendapat perhatian dari keluarganya. Kurangnya perhatian dapat secara aktual menyebabkan efek yang merusak pada kesehatan dan penyembuhan pasien. Universitas Sumatera Utara Maka keluarga merupakan orang-orang yang paling mungkin dan mampu memberikan aspek perhatian ini. Memberikan kehangatan, rasa cinta, perhatian dan komunikasi adalah hal yang bermakna dan penting dalam memenuhi kebutuhan psikososial pasien. Bahkan pada pasien tuli, tidak mampu berbicara, atau tidak mampu memahami bahasa, atau tidak mungkin berkomunikasi verbal karena intubasi atau sakit fisik lainnya juga memerlukan dukungan keluarga untuk memberikan kehangatan, rasa cinta, perhatian dan komunikasi yang mungkin dilakukan dengan menggunakan sentuhan Hudak & Gallo, 1997. 3. Konsep kebutuhan keluarga pasien Defenisi kebutuhan keluarga Kebutuhan adalah salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar alasan untuk berusaha. Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena terdapat perbedaan budaya, maka kebutuhan tersebut pun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan bergerak untuk berusaha mendapatkannya. Kebutuhan keluarga merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh keluarga dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis individu-individu dalam keluarga tersebut, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan Alimul, 2009. Universitas Sumatera Utara Faktor yang mempengaruhi kebutuhan keluarga Keluarga terdiri dari satu atau lebih individu dimana individu-individu ini adalah manusia yang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama. Kebutuhan dasar manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain penyakit, hubungan keluarga, konsep diri dan tahap perkembangan. Adanya penyakit dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya. Selain penyakit, hubungan keluarga yang baik juga dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya, merasakan kesenangan hidup, tidak ada rasa curiga, dan lain-lain. Faktor lain yang juga berpengaruh adalah konsep diri dimana konsep diri yang positif dapat memberikan makna dan keutuhan wholeness bagi seseorang. Konsep diri yang sehat menghasilkan perasaan positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhan dasarnya. Terakhir, faktor tahap perkembangan dimana sejalan dengan meningkatnya usia, manusia mengalami perkembangan. Setiap tahap perkembangan tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual, mengingat berbagai fungsi organ tubuh juga mengalami proses kematangan dengan aktifitas yang berbeda Alimul, 2009. Universitas Sumatera Utara Kebutuhan keluarga pasien di ruang ICU Manusia sebagai makhluk holistik merupakan makhluk yang utuh atau paduan dari unsur biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Sebagai makhluk biologis, manusia tersusun atas sistem organ tubuh yang digunakan untuk mempertahankan hidupnya, mulai dari lahir, tumbuh kembang, hingga meninggal. Sebagai makhluk psikologis, manusia mempunyai struktur kepribadian, tingkah laku sebagai manifestasi kejiwaan, dan kemampuan berpikir serta kecerdasan. Sebagai makhluk sosial, manusia perlu hidup bersama orang lain, saling bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup, mudah dipengaruhi kebudayaan, serta dituntut untuk bertingkah laku sesuai dengan harapan dan norma yang ada. Sebagai makhluk spiritual, manusia memiliki keyakinan, pandangan hidup, dan dorongan hidup yang sejalan dengan keyakinan yang dianutnya. Perawat sebagai pelaksana dalam memberi pelayanan keperawatan haruslah memandang keluarga pasien sebagai makhluk yang utuh dengan kebutuhan biologis, psikologis, sosial dan spiritual Alimul, 2009. Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Abraham Maslow 1984 tentang kebutuhan kebutuhan secara holistik. Ada beberapa hal penting yang menjadi kebutuhan keluarga pasien saat menunggu pasien di rumah sakit, yaitu sebagai berikut 1. Kebutuhan dasar satu Kebutuhan Fisiologis Kebutuhan fisiologis bersifat neostatik usaha untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik seperti makan, minum, kebutuhan istirahat dan personal hygiene. Universitas Sumatera Utara 2. Kebutuhan dasar dua Kebutuhan Keamanan/Safety Kebutuhan fisiologis sifatnya adalah untuk mempertahankan hidup jangka pendek, sedangkan keamanan adalah pemahaman hidup jangka panjang. Kebutuhan keamanan keluarga saat dirumah sakit misalnya adanya jaminan pelayanan kebutuhan informasi, adanya dukungan mental. 3. Kebutuhan dasar tiga kebutuhan dimiliki dan dicintai Setelah kebutuhan fisiologis keamanan dipenuhi, kebutuhan selanjutnya yang menjadi tujuan dominan adalah kebutuhan dimiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial. Kebutuhan keluarga saat dirumah sakit contohnya adanya kedekatan keluarga dengan pasien, tersedianya kesempatan untuk memberi perhatian pada klien/pasien. 4. Kebutuhan dasar empat kebutuhan harga diri Ketika kebutuhan dimiliki dan dicintai sudah terpenuhi, selanjutnya yang menjadi tujuan dominan adalah kebutuhan harga diri sendiri/orang lain misalnya untuk kebutuhan keluarga adalah ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan dalam setiap pengobatan untuk pasien. The American College of Medicine Critical Care ACCM dan The Society of Medicine Critical Care SMCC merekomendasikan kebutuhan keluarga yang menunggu keluarganya dengan perawatan ICU meliputi kebutuhan untuk mengambil keputusan bersama, bukan keputusan sepihak oleh dokter, kebutuhan meningkatkan komunikasi dan menggunakan istilah-istilah yang keluarga bisa mengerti pada saat berkomunikasi, kebutuhan dukungan spiritual, mendorong dan menghargai do'a dan kepatuhan terhadap tradisi budaya yang membantu banyak Universitas Sumatera Utara pasien dan keluarga untuk mengatasi penyakit dan kematian, kebutuhan akan hadirnya keluarga pada saat resusitasi yang mungkin membantu keluarga untuk mengatasi stress akibat kematian orang yang di cintai, kebutuhan akan waktu kunjungan yang fleksibel, kebutuhan tersedianya ruangan menunggu untuk keluarga yang dekat dengan ruangan pasien, dan kebutuhan keluarga agar dilibatkan dalam proses perawatan paliatif Barclay & Lie, 2007. Menurut Henneman and Cardin kebutuhan anggota keluarga pasien kritis adalah kebutuhan akan informasi, kebutuhan untuk kepastian dan dukungan serta kebutuhan untuk berada di dekat pasien. Jenis informasi yang keluarga butuhkan dari perawat berhubungan dengan keadaan pasien secara umum. Keluarga ingin mendapat informasi tentang tanda-tanda vital stabil vs tidak stabil, tingkat kenyamanan pasien, dan pola tidur. Keluarga tidak mengharapkan perawat untuk memberikan informasi tentang prognosis, diagnosis, atau rencana pengobatan informasi ini mereka butuhkan dari dokter yang merawat pasien. Pernyataan ini juga berarti bahwa perawat tidak dapat dan tidak boleh memberikan jenis informasi ini. Kebutuhan untuk kepastian dan dukungan dimana keluarga perlu tahu bahwa salah satu orang yang mereka cintai sedang di rawat dengan cara terbaik dan bahwa segala sesuatu yang dapat dilakukan sedang dilakukan. Kebutuhan untuk meyakinkan dan memberi dukungan tidak berarti bahwa keluarga butuh harapan palsu untuk pemulihan yang tidak akan terjadi. Cara yang paling efektif untuk memberikan jaminan dan dukungan sering tak ada hubungannya dengan kata-kata yang diucapkan, melainkan ditunjukkan kepada keluarga dengan pelayanan lembut dan kepedulian setiap staf di ruang ICU. Universitas Sumatera Utara Kebutuhan untuk berada di dekat pasien yaitu berada di dekat orang yang mereka cintai yang sedang sakit. Mereka tidak hanya ingin memberikan dukungan dengan berada dekat dengan pasien, tetapi juga kehadiran fisik memungkinkan mereka untuk menyaksikan bagaimana anggota keluarga mereka sedang di rawat. Dengan memberikan waktu kunjungan yang fleksibel tidak hanya memungkinkan pasien dan keluarganya bersama namun juga memfasilitasi keluarga untuk memberikan dukungan pada pasien. Henneman et al mengatakan kebutuhan keluarga pasien yang keluarganya dalam perawatan kritis adalah kebutuhan akan informasi dan waktu kunjungan yang fleksibel. Informasi yang spesifik dan penting untuk keluarga pasien di identifikasi oleh Mirackle and Hovenkamp berupa kebutuhan untuk mendapat jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan keluarga, kebutuhan untuk mengetahui fakta tentang prognosa pasien, kebutuhan untuk mengetahui hasil suatu prosedur yang telah dilakukan sesegera mungkin, kebutuhan untuk mendapat informasi dari staf mengenai status pasien, kebutuhan untuk mengetahui mengapa sesuatu dapat terjadi, kebutuhan untuk mengetahui komplikasi yang mungkin terjadi, kebutuhan untuk mendapat penjelasan atau keterangan yang bisa di mengerti, kebutuhan untuk mengetahui dengan jelas apa yang sedang terjadi, kebutuhan untuk mengetahui tentang staf yang memberikan perawatan, kebutuhan untuk mendapatkan bimbingan atau petunjuk tentang bagaimana suatu prosedur dilakukan Urden & Stacy, 2000 . Dalam sebuah studi tentang kebutuhan keluarga pasien yang menunggu keluarganya dengan perawatan ICU ada beberapa hal penting yang dibutuhkan yaitu kebutuhan untuk dihubungi ke rumah bila terjadi perubahan pada kondisi Universitas Sumatera Utara pasien, kebutuhan untuk mengetahui prognosa penyakit, kebutuhan untuk mendapat jawaban yang jujur atas pertanyaan keluarga, kebutuhan untuk menerima informasi tentang pasien sekali sehari, kebutuhan untuk mendapat penjelasan terhadap sesuatu yang tidak dimengerti, dan kebutuhan untuk mendapat jaminan bahwa pasien mendapatkan kenyamanan. Campbell, 2009. Meskipun kebutuhan keluarga pasien yang menunggu keluarganya dengan perawatan ICU tampak mudah, namun adalah kesalahan bila menganggap bahwa semua staf yang bekerja di unit ICU mengetahui dan mencoba memenuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka Henneman and Cardin, 2002. Universitas Sumatera Utara
kematian di ruang icu